Jembatan Putus

Pada akhir musim hujan saat ini curahannya seolah menjadi-jadi, dan seperti ditumpahkan dari langit. Akibatnya banjir di mana-mana; sarana prasarana rusak bahkan putus, sehingga hubungan antara satu daerah dengan daerah lain terganggu. Kondisi seperti ini hampir setiap tahun terjadi dimana-mana; seolah-olah kita tidak pernah belajar dari alam, bahkan tidak jarang kia tidak mau bersahabat dengan alam. Kita berkecenderungan abai terhadap tanda tanda  alam.

Hirukpikuk bencana alam dan permasalahan sosial lain (termasuk pendidikan) sedikit terabaikan karena pesta demokrasi lima tahunan yang kita gelar. Akibatnya peristiwa yang selama ini menjadi fokus perhatian sedikit terabaikan, seolah-oleh mati hidup kita hanya karena Pemilihan, baik Pilleg maupun Pilpres. Menjadi ironis peristiwa ini menjadi bahan “gorengan sosial” yang sangat renyah untuk dinikmati, oleh para penganut paham “andai”.

Continue reading “Jembatan Putus”

Salah Ambil di Tikung AN

Pada saat mendapatkan berita dari pimpinan fakultas bahwa istri seorang teman dosen di Kota Metro meninggal dunia, pagi itu kami bergegas menuju rumah duka dengan melalui jalur bebas hambatan. Kecepatan kendaraan dibuat stabil rata-rata delapanpuluh kilometer perjam, mengingat usia kendaraan berbanding lurus dengan pengemudinya yang sudah tidak muda lagi; maka kecepatan itu dianggap ideal.

Persoalan keberangkatan tidak ada masalah serius; namun pada waktu menuju kembali ke Bandarlampung terjadi debat kecil jalur masuk ke jalan bebas hambatan itu ambil dari kiri jalan atau tengah jalan bersiap menikung dengan menyalakan lampu tanda berbelok arah. Untung saat itu jalan dalam kondisi lengang; tidak terbayangkan jika saat itu ada kendaraan yang berlawanan arah, mungkin sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Keputusan diambil dengan cepat, kendaraan langsung masuk ke jalur jalan bebas hambatan, dan dengan selamat bisa masuk jalur.

Continue reading “Salah Ambil di Tikung AN”