Salah Ambil di Tikung AN

Pada saat mendapatkan berita dari pimpinan fakultas bahwa istri seorang teman dosen di Kota Metro meninggal dunia, pagi itu kami bergegas menuju rumah duka dengan melalui jalur bebas hambatan. Kecepatan kendaraan dibuat stabil rata-rata delapanpuluh kilometer perjam, mengingat usia kendaraan berbanding lurus dengan pengemudinya yang sudah tidak muda lagi; maka kecepatan itu dianggap ideal.

Persoalan keberangkatan tidak ada masalah serius; namun pada waktu menuju kembali ke Bandarlampung terjadi debat kecil jalur masuk ke jalan bebas hambatan itu ambil dari kiri jalan atau tengah jalan bersiap menikung dengan menyalakan lampu tanda berbelok arah. Untung saat itu jalan dalam kondisi lengang; tidak terbayangkan jika saat itu ada kendaraan yang berlawanan arah, mungkin sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Keputusan diambil dengan cepat, kendaraan langsung masuk ke jalur jalan bebas hambatan, dan dengan selamat bisa masuk jalur.

Sekelumit penggalan peristiwa itu mengingatkan bagaimana dalam kehidupan sosial banyak sekali peristiwa yang salah mengambil posisi saat berada pada tikungan sosial. Makna tikungan sosial itu sendiri sangat bermacam-macam; ada yag sekedar peristiwa pribadi dalam mengarungi hidup, ada juga peristiwa sosial atau juga politik kenegaraan yang sedang berlangsung.

Peristiwa besar seperti Pemilihan Umum yang lalu; jika kita cermati banyak sekali seseorang individu, organisasi sosial, organisasi politik, atau himpunan sosial lainnya; yang dalam mengambil posisi sosial berada pada jalur yang tidak tepat, sehingga mereka pada ujungnya tidak mampu menyelesaikan tugas sosialnya dengan menyenangkan. Betul pepatah mengatakan bahwa hidup adalah harus berani mengambil resiko, namun resiko juga ada manajemennya yang mengutamakan meminimalisir dampak dari resiko itu, istilah yang populer disebut manajemen resiko.

Kita telusuri dari individu, ada yang meninggalkan negeri dengan asumsi jika terjadi peristiwa seperti disain yang diharapkan akan mendapatkan posisi tawar yang tinggi. Ternyata kenyataan harapan tidak sesuai kenyataan, akibatnya individu tadi hanyut secara sosial. Bahkan sekarang tangannya menggapaigapi untuk dapat diselamatkan dengan berlindung pada konsoliasi. Sekalipun hal itu tidak mungkin terjadi karena di depan jalan tikungan masih banyak, dan kewaspadaan harus super hati hati.

Ada juga individu yang dengan gagah berani memutuskan risain dari satu profesi yang menurut akal sehat punya masa depan gemilang. Beliau mengambil langkah pindah jalur pada tikungan sosial sesuai arahan yang diperoleh. Ternyata tikungan yang diambil sangat memiliki resiko sosial yang tinggi, sementara untuk kembali arah sudah tidak mungkin lagi. Akhirnya individu inipun hanyut secara sosial, dan harus mengikuti timbul tenggelamnya kehidupan yang sangat sulit untuk diprediksi.

Hal di atas dalam peristiwa laut sosial yang besar dan luas. Dalam pengertian personal sebenarnya banyak juga kejadian yang seperti itu. Risain dari Pegawai Negeri Sipil atau ASN sekarang karena secara matematis langkah tersebut menguntungkan. Ternyata kalkulasi pengambilan jalur pada tikungan kehidupan itu salah,  akhirnya bak pepatah Melayu mengatakan  berharap burung Merpati yang terbang, Punai di tangan dilepaskan.  Peristiwa ini mengingatkan teman beberapa tahun silam yang mengambil jalur ditikungan sosial seperti ini. Peringatan demi peringatan diberikan, ternyata tidak digubris juga, walhasil kegagalan menimpa dan entah kemana rimbanya teman setia tadi.

Demikian juga organisasi sosial, organisasi politik dan himpunan sosial. Mereka yang mengambil jalur keras sudah memperhitungkan hanya dua pilihan, melaju atau terguling dalam menikung. Untuk kelompok ini resiko sudah diperhitungkan secara cermat; sehingga kanal penyelamat sudah disiapkan jauh hari, Sementara yang berada pada posisi ragu ragu, saat tikungan sosial selesai dilalui, dampak Sentrifugal Sosial sangat terasa pada kelompok ini. Akhirnya mereka mengalami kegoncangan yang berakibat pada keretakkan sosial dari dalam, dan cemoohan sosial dari luar. Oleh sebab itu tidak aneh kalau organisaasi ini sekarang mengalami goncangan sosial yang cukup dahsyat, karena ada pertentangan antara ingin menyelamatkan kelompok dengan membanting kendali, dengan keinginan berada pada posisi semula walau harus terguling atau tersungkur; tentu saja dengan atas nama harga diri, sebagai sombolisasi perlindungan sosial yang ampuh.

Memahami gerak sosial di atas maka tidaklah heran saat ini banyak istilah baru muncul dalam penggambaran akan peristiwa itu. Antara lain “jangan rabun ayam” ada lagi yang memunculkan istilah “penyelamatan partai”; kemudian ada juga yang mengatasnamakan “pendiri” , dan masih banyak lagi istilah apapun namanya semua itu menunjukkan bahwa hakekatnya mereka salah mengambil jalur saat menikung; yang akibatnya mereka tertelikung.

Menurut teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura, peristiwa serupa di atas adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan sosial, karena proses belajar sosial sedang dan akan terus berlangsung dalam kehidupan manusia; dan jika dikaitkan dengan teori Piramidal Kurban Manusia oleh Petter Berger, maka goncangan sosial itu diperlukan dalam menegakkan piramid sosial, mereka yang secara sosial tersisihkan harus bersiap menepi sementara yang kalah secara sosial  harus ihlas berada di bawah menjadi penyanggah, sehingga terbentuk piramid sosial.

Persoalan sekarang mampukah kita menangkap simbol-simbol sosial itu sebagai media pembelajaran bagi kehidupan pribadi atau kelompok. Banyak diantara kita baru menyadari dan menyesali setelah peristiwa itu berlangsung; sementara tikungan untuk kembali tidak akan mungkin kita jumpai. Walaupun posisi penyesalan itu memang dibelakang, dan jika di depan adalah pendaftaran.

Perubahan demi perubahan terus terjadi, dan makin sering perubahan terjadi maka kita akan dihadapkan pada tikungan tikungan sosial yang sering muncul. Jika kita salah dalam mengambil posisi, maka kita akan terbawa dengan gerak sentrifugal sosial yang cukup membahayakan. Hal ini dapat kita lihat, pemimpin yang berseteru sudah bersatu, tetapi efek sentrifugal dari perseteruan itu tetap saja berimbas memukul balik. Disini uji kedewasaan bernegara dan berdemokrasi bagi kita semua dituntut.

Menjelang perayaan 74 tahun kemerdekaan, adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan evaluasi diri berkaitan dengan keputusan keputusan yang pernah kita ambil. Keputusan yang menimbulkan keputusasaan tentunya yang mendapatkan prioritas; karena dengan demikian kita dapat melakukan kaji diri, agar dalam mengambil posisi pada tikungan kehidupan menjadikan kita tetap berdiri tegak sebagai pelakon kehidupan.

Jatuh bangunnya kehidupan adalah sunatullah, akan tetapi mengulangi kesalahan akibat dari kekurangcermatan perencanaan adalah kebodohan yang kita sengaja.  Oleh sebab itu menjadi orang pandai tidaklah cukup dalam hidup ini, akan tetapi menjadi orang cerdas adalah suatu keniscayaan yang harus kita wujudkan.

Sebentar lagi Tsunami Sosial akan terjadi dan itupun tinggal menghitung hari; persoalannya sekarang apakah kita sudah mempersiapkan diri menghadapi peristiwa itu. Banyak diantara kita tergagab saat peristiwa itu terjadi, sementara sedikit orang yang siap dan mereka sudah mempersiapkan kanal penyelamat dari sekarang.

Banyak diantara kita, terutama yang akan terimbas akan adanya tsunami sosial tadi tidak menyadari bahwa peristiwa itu memang harus berulang setiap lima tahun. Sebentar lagi jargon “ganti Menteri ganti kurikulum”,  ganti dirjen ganti departemen, ganti direktur ganti atur atur, dan masih banyak lagi kata ganti itu jika diteruskan.

Adalah sesuatu yang bijak jika kita melihat perubahan adalah sesuatu keharusan, karena Prof. Selo Sumardjan pernah mengatakan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Dengan kata lain selama kita masih hidup di dunia ini harus ihlas menerima perubahan, hanya bentukan perubahan itu ada yang melalui envolusi, atau melalui evolusi, bisa juga revolusi. Ketiganya adalah sebagai hukum sosial yang terus bergerak bersamaan dengan gerak sosial yang dilakoni oleh manusia. SALAM….. MERDEKA.(Oleh : Prof.Sudjarwo / amrul.id )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *