6 Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia

Adanya pandemic akibat virus corona atau Covid-19 telah memberikan dampak di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Kondisi yang terjadi saat ini mewajibkan sekolah untuk melakukan pendidikan secara daring atau sering dikenal dengan pembelajaran jarak jauh.

Di Indonesia, pembelajaran daring sudah mulai dilakukan sejak akhir Maret 2020 hingga saat ini. Dari Kemendikbud pun telah mengubah arah kebijakan untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan dengan merekomendasikan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di mana proses belajar dilakukan dari rumah. Proses ini diberlakukan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Walaupun demikian, PJJ pun ternyata memberikan tantangan tersendiri baik bagi anak, guru, maupun orangtua. Berikut ini adalah beberapa tantangan yang selama ini dihadapi dalam proses PJJ di pendidikan dasar

Anak Belum Mandiri

Di pendidikan dasar seperti anak TK sampai sekolah dasar, anak-anak kebanyakan masih harus diingatkan terus menerus oleh guru maupun orangtua di rumah untuk mengerjakan tugas yang diberikan dari sekolah. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran yang diterapkan oleh kebanyakan sekolah bertujuan untuk mengajak anak bereksplorasi secara mandiri.

Sayangnya, anak yang belum mandiri ini cenderung hanya mengerjakan tugas sesuai instruksi, tidak mengerjakan tugas jika tidak diingatkan oleh orangtua, dan ada yang mengerjakan ala kadarnya atau asal jadi.

Minimnya Kesadaran Orang Tua

Dalam proses PJJ, orangtua memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan pendidikan anak-anak selama mereka berada di rumah. Apalagi selama PJJ anak-anak juga tidak bertemu dengan gurunya sehingga proses pendampingan pun harus dilakukan oleh orangtua jika anak belum mandiri. Orangtua sendiri banyak yang belum siap dengan kondisi PJJ ini.

Di sisi lain, banyak orangtua yang terdampak dari segi ekonomi di mana perekonomian keluarga mengalami penurunan seperti karyawan yang dirumahkan, pemasukan usaha yang menurun, dan lain sebagainya yang memaksa orangtua bekerja lebih keras agar keuangan keluarga tetap terjaga. Ketika orangtua sendiri merasa terbebani dengan kondisi tersebut dan harus diminta untuk mendampingi anak belajar di rumah, hasilnya banyak orangtua yang merasa semakin tertekan dan tidak memberikan pendampingan secara optimal.

Tidak sedikit keluhan orangtua yang dijumpai melalui media sosial di mana orangtua merasa stress, marah, dan terkesan menyalahkan sekolah ketika diminta untuk melakukan pendampingan belajar terhadap anak karena sekolah dianggap melimpahkan tugas guru kepada orangtua. Inilah hal yang cukup disayangkan karena orangtua sebenarnya adalah pendidik utama anak. Selama ini, anak sebenarnya menghabiskan lebih banyak waktu di rumah baru kemudian di sekolah. Jadi proses pendidikan dan pembentukan karakter yang utama sebenarnya terjadi di rumah.

Memiliki Beberapa Anak Sekolah Dalam Satu Keluarga

Banyak keluarga yang memiliki lebih dari satu anak yang mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan jenjang yang berbeda misalnya kakak kelas 6 SD dan adik di kelas 1. Anak-anak yang masih berada di jenjang pendidikan dasar biasanya belum mandiri sehingga harus didampingi orangtua dalam mengerjakan tugasnya atau ada beberapa tugas yang memang menuntut kerjasama antara anak dan orangtua. Ketika mendampingi lebih dari satu anak, orangtua tentu perlu meluangkan waktu lebih banyak dibandingkan hanya mendampingi 1 anak saja.

Kendala Alat

Alat juga kadang menjadi kendala yang tidak bisa dipungkiri. Di masa PJJ ini, anak-anak tentu harus menggunakan gawai, khususnya dalam pengumpulan tugas. Tidak sedikit pelajar di Indonesia yang belum memiliki fasilitas tersebut sehingga banyak juga orangtua yang akhirnya berjuang mati-matian membeli hp baru agar anaknya tetap bisa mengakses pendidikan.

Kuota Internet yang Membengkak

Internet menjadi kebutuhan yang vital karena menjadi sarana komunikasi dan pengumpulan tugas selama PJJ. Hasilnya kebutuhan kuota internet pun meningkat. Apalagi jika sekolah sering menggunakan media berupa video dan mengadakan pertemuan dengan media daring seperti Zoom yang menghabiskan banyak kuota.

Sinyal Internet Tidak Stabil

Ketika semua fasilitas yang tersedia sudah memadai, tetapi proses PJJ kadang masih saja tersendat karena sinyal internet yang tidak stabil. Sinyal yang tidak stabil ini tentu sangat mengganggu misalnya komunikasi menjadi kurang lancar atau proses pengerjaan tugas menjadi terhambat.

Dengan berbagai tantangan tersebut, semua pihak saat ini memang harus bertahan dan mencari berbagai model pembelajaran masa pandemi agar proses pendidikan tetap berjalan dan mengupayakan tidak ada pihak yang merasa dirugikan melalui proses tersebut. (Amarulloh / amrul.id )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *