4 Kendala Sekolah Daring yang Sering Terjadi di Indonesia

Pada masa pandemi kali ini membuat para siswa harus menghentikan kegiatan belajar di sekolah biasa dan digantikan menggunakan kegiatan belajar melalui daring. Namun ternyata tidak semua siswa di Indonesia ini bisa melakukannya karena berbagai kendala. Apa saja kendala sekolah daring yang sering terjadi di Indonesia?

  1. Masih Tingginya Tingkat Siswa yang Belum Memiliki Ponsel Pintar

Kendala yang pertama adalah banyaknya siswa yang belum memiliki ponsel pintar. Indonesia termasuk dalam negara yang masih berkembang. Selain itu masih banyak kesenjangan di negara kita tercinta ini sehingga tingkat masyarakat dengan perekonomian rendah masih tinggi. Mengingat harga ponsel pintar ini lumayan mahal untuk mereka yang termasuk pada kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Hal ini tentu menjadi sebuah kendala bagi mereka yang ingin mendapatkan ilmu tetapi masih sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas. Namun sekolah daring di masa pandemi ini membuat kita semakin kreatif. Banyak sekolah yang menyediakan HT sehingga tidak perlu menggunakan ponsel pintar, ada juga guru-guru yang terpaksa mendatangi muridnya, dan berbagai usaha yang lainnya.

  1. Sinyal di Daerah Masih sangat Sulit Dijangkau

Kendala sekolah daring yang berikutnya adalah sinyal di beberapa daerah yang masih sangat sulit terjangkau. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa negara Indonesia ini terdiri dari berbagai pulau, ada pulau besar seperti pulau Jawa dan ada juga pulau-pulau kecil yang sangat terpencil. Di beberapa daerah terpencil tersebut sinyal beberapa provider belum bisa masuk.

Oleh karena itu banyak siswa yang akhirnya terkendala dalam sekolah daring ini karena sinyalnya tidak ada. Banyak siswa yang harus ke gunung, ke sawah, dan lain-lain hanya untuk mendapatkan sinyal provider mereka.  Hal ini tentu sangat membahayakan, sering kali kita mendengar kasus siswa meninggal karena harus mencari sinyal di atas tebing, dan lain sebagainya.

  1. Keterbatasan Ekonomi yang Tidak Memungkinkan Orang Tua Membelikan Kuota Data

Kendala yang ketiga adalah tingkat ekonomi yang rendah ini juga membuat orang tua susah untuk membeli kuota data padahal kuota sendiri merupakan hal yang paling penting dalam sekolah daring seperti ini. Kuota dapat menghubungkan anak-anak dengan internet sehingga bisa digunakan untuk belajar secara jarak jauh.

Kuota data juga masih terhitung mahal bagi beberapa masyarakat dengan kalangan ekonomi menengah ke bawah padahal untuk makan saja mungkin mereka masih bingung. Akhirnya siswa sering kali ketinggalan pelajaran atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali untuk pembelajaran jarak jauh.

  1. Kurangnya Kesadaran Orang Tua Mengenai Mode Pembelajaran Jarak Jauh

Selain itu, di negara kita terutama untuk masyarakat di daerah masih terlalu kuno karena akses informasi yang masih sangat terbatas. Banyak orang tua yang menganggap ponsel merupakan barang tersier bahkan merasa bahwa ponsel apalagi ponsel pintar hanya membuat anak menjadi malas dan lain sebagainya, alhasil seorang anak menjadi tidak bisa belajar karena tidak memiliki akses untuk menggunakan ponsel pintar untuk pembelajaran jarak jauh.

Hal-hal seperti ini memang sangat merugikan akan tetapi sering terjadi apalagi bagi orang tua yang sama sekali tidak ingin melangkah maju. Sekolah daring selama pandemi ini memang tidak terencana sebelumnya sehingga orang tua belum banyak mendapatkan sosialisasi.

Penutup

Setelah mengetahui beberapa kendala diharapkan pemerintah lebih serius dalam membuat kebijakan. Karena kebijakan tanpa melihat sisi lain permasalahan di daerah bukannya membuat sistem pembelajaran semakin baik tetapi malah memperburuk keadaan. Sebaiknya pemerintah lebih banyak memberikan bantuan kepada anak-anak daerah agar pembelajaran secara daring pada masa pandemi ini bisa berjalan dengan lancar.

Bagi kita semuanya juga harus ikut mendukung kegiatan belajar mengajar anak. Kita semua harus bergotong royong dalam memajukan pendidikan Indonesia. Kendala sekolah daring ini terjadi karena memang kita belum siap sebab pandemi datang secara tiba-tiba. Dengan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, melakukan pemikiran dan gotong royong berasa masyarakat lainnya akan membuat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi semakin baik dan tercipta anak-anak cerdas yang berbudi luhur. (Amarulloh/amrul.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *